Hidupku penuh makna saat aku menemukannya. Bersama
seseorang yang sabar menuntunku untuk lebih dekat dengannya. Tenang, ya rasa
yang membuncah dalam dada ini. Seperti aku sedang menemukan bongkahan emas, aaa
tidak tidak mungkin lebih dari itu.
Tetatih-tatih aku mendekati walau kadang aku
tak paham maksudnya, tapi tanpa kenal lelah akupun terus berusaha mendekat dan
bertanya kesana kemari kepada orang yang sudah lebih lama mengenalnya. Dari sini
aku sadar mengenalnya berarti aku harus lebih rajin lagi untuk belajar semua
tentangnya.
Tak mudah dan tak cukup disitu saja, rintangan
itu semakin nyata wujudnya kala diri semakin baik mengenalnya. Dari cemoohan,
tuduhan, hinaan, bahkan pertengkaran tak dapat terelakan.
Aku terus berjuang, aku terus memberi pengertian
kepada semua orang, bahwa apa yang aku kenal ini , dialah yang terbaik.
Nyatanya memang demikian.
Air mata menjadi saksi dimana beribu cara agar kedua
orang tuaku meridhoi semuanya, tak secepat perkiraan , aku harus bersabar terus
bersabar sambil aku memperbaiki semua akhlakku. Aku mencoba terus mengenalnya.
Sampai akhirnya waktu itu tiba kedua orang
tuaku meridhoi aku untuk terus bersamanya, melalui jalan perjuangan menuju
kemenangan yang telah Allah janjian. Semoga aku selalu bersamanya sampai Allah
bilang “saatnya pulang”.
ISLAM adalah hal yang sampai sekarang aku masih
berproses mengenalnya. Sebuah nikmat tak terkira yang Allah berikan. Sebuah
aturan dari Sang Pencipta yang mengatur segalanya dari hal terkecil sampai hal
terbesar.
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آَمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ
الشَّيْطَانِ
إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu
ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)